sains in my dream

sains in my dream

Senin, 25 Juni 2012

BAHASA MUNA Vs BAHASA BINTE

I.   Bahasa Muna
1. Latar Belakang
Daerah Sulawesi Tenggara memiliki bahasa yang beraneka ragam. Daerah yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara misalnya adalah Kabupaten Muna dengan ibu kotanya Raha. Masyarakat Muna lebih mengenal Bahasa Indonesia dengan logat ala Jakarta “Loh dan Gueh” ketimbang bahasa daerahnya sendiri yaitu bahasa daerah Muna. Hal ini karena pengaruh kurangnya kesadaran serta kemauan kita untuk lebih mengenal dan mengetahui bahasa daerah kita sendiri. Tak bisa kita pungkiri, dikalangan kita saja sebagai mahasiswa putra-putri dari Muna belum tahu bahkan ada yang tidak mengetahui bahasa daerahnya sama sekali. Kita sebagai generasi muda sepatutnya harus dan wajib tahu bahasa daerah kita, karena kita dilahirkan dari kampung halaman, dan bahasa daerah itu akan menunjukkan persatuan dan kesatuan kita baik ditingkat daerah maupun bagi negara kita, Republik Indonesia.
Bahasa daerah Muna memilki gaya bahasa yang unik dibandingkan dengan bahasa daerah yang lain. Bukan membeda-bedakan bahasa daerah yang satu dengan yang lain, tetapi untuk menunjukkan persatuan bangsa dengan menjaga bahasa daerah kita masing-masing agar tetap lestari. Olehnya itu, perlu kesadaran dari kita sendiri khususnya bagi generasi-generasi muda untuk tetap melestarikan bahasa daerah. Tidak perlu malu untuk menggunakan bahasa daerah, karena bahasa menunjukkan bangsa.
Ada cerita yang cukup unik, sya sebagai penulis artikel ini ingin bercerita sedikit mengenai cerita lucu daerah muna. Ceirita ini sudah lama sya dengar dan mungkin bahkan sekarang cerita ini menjadi guyonan sya ketika saya berkumpul bersama orang-orang muna yang tinggal di daerah lain. Peda ini tula-tulano, “Suatu hari ada orang Muna yakni anak dan ibunya hendak mau berangkat ke Jakarta. Si anak memberitahu kepada ibunya, Oma.. Oma.. sbntar lau kita udah tiba di kota Jakarta kita bicara pake bahasa (Loh.. dan Gue..) okemi Oma., Iya ana, gampangmi kune itu, jawab ibunya. Setelah mereka sampai di jakarta kemudian mereka naik mobil angkot. Ketika mereka turun dari angkot, tanpa disengaja kepala ibunya tertumbuk di mobil. Aduh ana, GUE TIBHANGKU nih, lalu anaknya menjawab LUH Si Mak NGGAK LONGKO dulu.. :-D hmm, itulah sedikit cerita yang mungkin dapat kita ambil pelajaran bahwa janganlah malu untuk menggunkan bahasa daerahmu dimanapun kamu berada, meski telah berada ditempat yang jauh dari daerah dan kampung halamanmu.



2. Pengenalan Bahasa daerah Muna
Kita dapat belajar bahasa daerah Muna dengan mudah. Berikut ini beberapa dasar untuk belajar bahasa Muna.
Ø Saya = inodi
Ø Makan = fumaa
Ø Tidur = lodo, berbaring (ndole-ndole)
Ø Kamu laki2/perempuan = ihintu
Ø Mereka = andoa
Ø Kami = intaidi, insaidi
Ø Sana = watu
Ø Di sana = newatu
Ø Itu = aitu
Ø Disitu = naitu
Ø Atas = wawo
Ø Bawah = panda
Ø Samping = ne soriri
Ø Kanan = ngkema
Ø Kiri = nsuana
Ø Cantik / ganteng = pasole
Ø Laki-laki = moghane
Ø Perempuan = robhine
Ø Sakit = saki
Ø Pergi = kala
Ø Datang = mai
Ø Lari = tende
Ø Dia = anoa
Ø Sekolah = sikola
Ø Belajar = poguru
Ø Sedang = naando
Ø Belum = minaho
Ø Pintar = pande

Contoh dalam kalimat, sebagai berikut :
a.   Saya sedang makan = inodi naando a fumaa.
Dia sedang makan = anoa naando no fumaa.
Mereka sedang makan = andoa naando do fumaa.
Ada tambahan imbuhan a pada kata a fuma, ini menunjukkan bahwa saya 1 orang sedang makan, no fuma (dia 1 org sedang makan), do fumaa (mereka laki/perempuan sedang makan).
b.   Kamu orang pintar = ihintu mie mopande.
c.   Kami sering pergi ke sekolah = insaidi nenturu dakala we sikola
d.   Kamu gadis yang cantik = ihintu robhine mopasoleno.
e.   Jangan sering bermain di situ = koise mepkalalambumu neitu.
Dalam pergaulan bahasa Daerah Muna sehari-hari, kita biasa mencamuprkan dengan logat dan gaya bahasa kita, sehingga terkadang ada istilah dalam Bahasa Muna dengan Logat KUNE, IYO, -MI, dan lain sebagainya. Sehingga ketika kita berbicara dengan orang lain yang bukan orang Muna mereka pasti sudah tau dengan gaya bahasa kita dengan mendengar logat orang Muna IYO KUNE, SEBENTAR MI KUNE, dan lain sebagainya. Tapi kita jangan malu dengan gaya bahasa yang kita pakai karena itu menunjukkan ciri dan identitas kita sebagai PUTRA dan PUTRI bangsawan MUNA.

II. Bahasa Binte
1. Latar Belakang
Banyak sekali bahasa yang terdapat di suatu lingkungan masyarakat, baik yang nampak maupun tak nampak oleh kita dan bahasa itu hanya digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu saja untuk dijadikan sebagai alat informasi khusus bagi setiap orang yang ada di kelompok tersebut.
Daerah Muna juga memiliki beberapa jenis bahasa baru yang digunakan oleh kelompok-kelompok masyarakat teretntu yakni dikenal dengan istilah Bahasa Binte. Keberadaan bahasa ini telah ada sejak saya masih kecil, saya lahir tahun 1991 dan sampai sekarang saya terakhir menulis artikel ini adalah tahun 2012 dan bahasa ini masih ada. Berarti Bahasa Binte ini sudah ada kurang lebih 21 tahun lamanya, tapi ketika saya bertanya kepada kakak-kakak saya, mereka mengatakan bahasa ini sudah ada sejak mereka masih SMP. Berarti Bahasa Binte ini telah ada di tengah-tengah masyarakat dan sudah menjadi alat informasi yang khusus digunakan oleh orang-orang tertentu saja.
Saya mengetahui Bahasa Binte ini ketika saya duduk dibangku SD kelas 5. Saya pertama kali disampaikan oleh teman saya dengan menggunakan bahasa asing (Bahasa binte), saya sebenarnya belum paham tapi kerana dia sering menyampaikan itu, sya kemudian memahaminya bahwa itu bahasa binte. Temanku ACO mengatakan kepada sya dengan bahasa binte (Maku daka rai), sya tidak tahu dan saya hanya tertawa saja mendengar bahasanya, dan setelah saya cari tahu ternyata itu adalah bahasa binte dengan artinya yang jorok (maku daka rai = kamu sama dengan tai ^^). Setelah saya tahu bahwa itu bahasa binte, saya kemudian mempelajarinya dari hal-hal yang mendasar dan temanku lebih faham mengenai bahasa binte karena dia belajar dari kakaknya serta sering bergaul dengan kelompok yang sering menggunakan bahasa binte.
Menurut cerita dari masyarakat Raha, bahwa Bahasa Binte ini terbentuk ketika terjadi perang antar pemuda yang membawa nama lorongnya masing-masing yakni pemuda lorong PK melawan pemuda lorong Paelangkuta. Ketika ada seorang pemuda yang menyerbu pemuda lainnya mereka menggunakan bahasa binte sebagai isyarat dan alat informasi mereka agar tidak diketahui pemuda lain. Mereka mengatakan (NGODO = goso/serang/hancurkan) kepada pemuda lain yang tidak tau bahasa binte, sehingga pemuda lorong PK menang dan tetap menggunakan Bahasa Binte sebagai bahasa persatuan di kelompok mereka. Seiring berkembangnya zaman, Bahasa Binte terus digunakan oleh mereka (pemuda lorong PK) untuk menyerbu pemuda lainnya ketika terjadi bentrok. Namun, adik-adik bahkan anak-anak mereka pun sudah diperkenalkan tentang Bahasa Binte. Sehingga sampai saat ini Bahasa Binte terus ada di tengah-tengah masyarakat kota Raha khususnya, karena bahasa ini telah menjadi ciri dari suatu kelompok pemuda yang ada di kota tersebut.

2.   Defenisi dan Penggunaan Bahasa Binte
Bahasa Binte merupakan bahasa baru yang hanya digunakan oleh orang-orang terentu atau kelompok tertentu saja yang ada di kota Raha daerah Muna, Sulawesi Tenggara. Bahasa ini berdiri sendiri dengan aturan yang tidak terlalu terikat oleh bentuk bahasa, sehingga bahasa ini mudah digunakan oleh orang lain.
Ada beberapa aturan yang digunakan pada pengucapan dan penulisan dalam Bahasa Binte, untuk lebih memahami tata cara penggunaan Bahasa Binte, saya akan menjelaskannya sebagai berikut :
a.  Huruf-huruf di dalam Bahasa Binte sama dengan huruf pada Bahasa Indonesia yaitu huruf a, b, c, d, e, ..., z. Dalam bahasa Indonesia terdapat dua jenis huruf yakni huruf vokal dan huruf konsonan. Sedangkan dalam Bahasa Binte, huruf vokal dan huruf konsonannya diatur dan diganti sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh  sekelompok Pemuda Lorong PK dengan aturan sebagai berikut :
Ø Huruf vokal dalam Bahasa Indonesia (a, i, u, e, o). Begitupun pada Bahasa Binte huruf vokalnya tetap dan tidak dirubah ataupun diganti.
Ø Sedangkan huruf-huruf konsonan pada Bahasa indonesia dalam penggunaan Bahasa Binte diganti menjadi :
-         B = P
-         C = Z
-         D = S
-         F = J
-         G = NG
-         H = N
-         J = F
-         K = M
-         L = W
-         M = K
-         N = H
-         P = B
-         Q = KI
-         R = T
-         S = D
-         T = R
-         V = VI
-         W = L
-         X = EKS
-         Y = YE
-         Z = C
b.   Penggunaan kalimat dalam Bahasa Binte juga harus mengikuti aturan dasar dari penulisan huruf vokal dan konsonan, namun tidak terikat oleh aturan bahasa Indonesia baik aturan E.Y.D., maupun aturan lain dalam Bahasa Indonesia. Pada Bahasa Binte ini hanya berpatokan pada penulisan huruf-hrufnya saja yakni huruf vokal dan huruf konsonan, contoh penulisan Bahasa Binte dalam sebuah kalimat :
-         Kita harus mengalahkan orang yang sudah memukulmu, bila diubah dalam Bahasa Binte maka akan menjadi
(mira natud kegawanmah otag vag dusan kekumuwku),
-         Jangan suka terlambat makan nanti kamu sakit, diubah ke dalam Bhasa Binte menjadi
(Fagah duma retwakpar kamah hahri maku damir),
-         Merokok mati, tidak merokok mati, mendingan merokok sampai mati
(Ketomom kari, risam ketomom kari, kehsigah ketomom dakbai kari) ^^.
3. Simpulan dan Saran
a. Simpulan
Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa Daerah Muna merupakan Bahasa pemersatu di daerah Muna dan menjadi alat informasi bagi masyarakat Muna khususnya serta menjadi ciri dan identitas dari masyarakat Muna itu sendiri, serta Bahasa Binte juga merupakan Bahasa pemersatu bagi sekelompok Pemuda Lorong PK yang ada di kota Raha/Muna yang mencirikan sifat dari pemuda yang selalu Bersatu untuk memebela teman anggota kelompoknya, sehingga Bahasa menjadi sangat rahasia dan menjadi alat informasi serta alat pemersatu.

b.  Saran
Sebaiknya bahasa tetap dilestarikan untuk menjunjung tinggi niliai-nilai dan tradisi suku, kelompok, masyrakat, Bangsa dan Negara. Baik itu bahasa Indonesia, Bahasa daerah Muna, dan juga Bahasa Binte sekalipun. Bahasa Daerah Muna dan Bahasa Binte harus tetap lestari agar generasi kita tahu bahwa Bahasa itu ada dan bisa menjadi alat pemersatu kita dalam lingkup masyarakat berbudaya dan jangan Bahasa Binte ini dijadikan sebagai alat untuk menghancurkan kaum lain atau kelompok lain dengan bahasa-bahasa isyarat dan bahasa yang bisa menyinggung orang lain shingga menimbulkan keributan dan kekacauan yang berkepanjangan.
Terimakasih telah membaca artikel ini.